Minggu, 29 Mei 2011

Saya dan Blog

Beberapa tahun yang lalu saat saya memulai untuk membuat blog satu yang terpikirkan oleh saya adalah bahwa blog akan saya jadikan sebagai sebuah media yang menampung segala macam pemikiran saya baik yang telah terpikirkan dan yang akan terpikirkan nantinya. Blog menjadi tempat saya menuangkan ide dan juga cerita tentang apa yang sedang saya alami baik secara mental belaka atau yang benar-benar hadir dalam kenyataan.

Blog adalah sarana saya untuk melakukan keterbukaan terhadap dunia luar, tempat saya menaruh sudut-pandang saya baik yang sama dengan masyarakat umum atau mungkin ada pandangan yang cenderung menyimpang. Blog adalah sebuah media untuk menulis dan merangkai kata, menjadikannya sebuah satu-kesatuan utuh yang merupakan pencerminan dari pemikiran saya.

Saya banyak menuangkan ide dalam blog saya ketimbang masalah harian saya, atau yang biasa kita kenal sebagai curahan hati. Visi, Misi dan juga Motivasi, mungkin ketiga hal tersebut yang banyak tercantum dalam blog saya, namun yang sekarang saya tanyakan adalah apakah kesemuanya sudah sangat jujur saya utarakan, atau masih banyak yang saya pendam dan sembunyikan dalam cara penulisan saya, saya pun sadara banyak sekali pembiasan yang saya lakukan dalam penulisan blog saya, hal ini sudah berlangsung selama beberapa tahun sejak blog ini pertama kali saya buat, atau ketika blog saya masih berada pada jejaring sosial yang digandrungi beberapa saat lalu.

Saya tidak pernah habis pikir tentang apa yang berikutnya saya tulis, ada tulisan yang memiliki kecenderungan bahwa saya hanya “asal menulis” saja dan tidak memiliki muatan yang cukup layak untuk ditampilkan, namun sekarang saya berpikir untuk menulis saja tak peduli apa itu “asal” atau memang memiliki muatan yang cukup untuk memberi pengetahuan kepada orang lain.

Kurang membaca mungkin menjadi salah satu penyebab kurangnya muatan pada hal yang saya tuliskan pada akhir-akhir ini, penyerapan terhadap ilmu pengetahuan yang mulai tersisih kesempatannya dengan pekerjaan yang sekarang saya jalani, atau ada kecenderungan sudah merasa sombongnya diri saya dan sudah merasa cukup dengan pengetahuan yang sekarang saya miliki sehingga saya menganggap bahwa sudah cukup apa yang saya miliki. Entah yang mana yang berlaku tapi saya menganggap yang pertama adalah alasannya.

Kecintaan saya terhadap Ilmu Psikologi masih juga belum luntur dan saya mengharapkan agar tidak pernah terjadi penurunan kadar kecintaan saya terhadap salah satu cabang keilmuan ini, masih banyak sekali buku yang ingin saya baca, masih banyak sekali segala sesuatu yang saya ingin ketahui dan kuasai. Ditemani dengan buku-buku politik dan juga filsafat yang selam ini juga mungkin sering saya lahap, namun rasanya masih kurang sekali apa yang saya ketahui. Masih banyak yang ingin saya capai, masih sangat banyak juga yang ingin saya lakukan.

Mencuri waktu saya pikir sering kali saya lakukan untuk dapat menikmati manisnya ilmu pengetahuan, bertemankan sebuah laptop tua dan jaringan internet sudah membuat diri saya merasa terlena dengan keadaan diluar saya, menjadi candu tersendiri yang membuat saya hilang dari realitas, ya, jelas mungkin saya ini sudah kecanduan internet.

Kecanduan internet pernah menjadi sebuah artikel saya beberapa waktu lalu, saya mengatakan dalam artikel tersebut bahwa manusia yang harus mengendalikan teknologi dan dirinya sendiri agar mereka dapat menciptakan keseimbangan dan juga keuntungan besar dari kemudahan yang kita miliki di jaman kita hidup sekarang ini. Mumpung (saya pikir), saya ini masih muda lebih baik saya isi dengan melakukan investasi dari leher ke atas, yaitu mengisi kepala saya dengan pengetahuan dan menyalakannya untuk diaplikasikan dalam kehidupan saya sehari-hari. Tidak ada yang salah selama kita masih mau untuk belajar, selama kita masih mau untuk berusaha, selama kita mau untuk melakukan yang terbaik dalam kehidupan kita.

Saya pikir kedepan ada baiknya kalau saya terus saja menulis, toh blog ini juga sebagai ruangan saya pribadi, terserah apakah ada yang membaca atau tidak ada yang membaca, tidak ada pengaharapan saya terhadap hal itu, yang saya inginkan hanya kebermanfaatan saya terhadap orang lain, kalau saya bermanfaat bagi orang lain berarti saya orang yang sehat, namun kalau saya merupakan orang yang merugikan bagi orang lain maka saya ini makhluk celaka. Namun dari semua itu setidaknya saya berbahagia hidup menjadi manusia yang berpikir bebas dan menjadi diri saya sendiri. Semoga saja saya bisa membaginya dengan orang lain. 

Baca terusannya......

Minggu, 15 Mei 2011

Sebuah Review Yang Belum Selesai

Sudah lama rasanya tidak pernah lagi menulis dari komputer, saya pikir saya sedang terlena dalam pekerjaan yang saya lakukan, semuanya terasa kaku saat saya kembali menulis menggunakan keyboard, diwaktu yang lalu saya banyak menggunakan media kertas dan pulpen saat menulis. Rasanya jauh berbeda, saat menuangkan ide kedalam secarik kertas dan dengan menggunakan keyboard dan komputer. Banyak ide yang memang saya tuangkan dalam tulisan tangan, ini memang lebih mengasyikkan namun banyak dari catatan saya tidak terkoordinir dengan baik, berserakan dimana-mana atau berada pada kertas yang berbeda, namun sekarang sudah saya kumpulkan dan mulai saya susun, sedikit demi sedikit saya buka dan baca kembali, mencari apa yang mungkin bisa menjadi sesuatu untuk dikembangkan disaat senggang seperti saat ini.

Kebiasaan menulis yang dahulu sering saya lakukan cenderung pernah menghilang beberapa saat, diakibatkan kesibukan dan fokus yang jauh dari penulisan, rasanya begitu rugi sekali tidak ada yang bisa ditumpahkan dan buntu terasa di dalam kepala. Menulis adalah bentuk dari kreatifitas, bagaimana kita bermain dengan kata-kata dan membentuk sebuah paragraf, menjadikannya artikel yang memiliki tujuan dan memuat suatu konsep pemikiran yang diharapkan membawakan kebaikan bagi para pembacanya.

Saya ingin kembali kepada awal kenapa saya menulis, sebuah kesempatan untuk berbagi kepada orang lain tentang apa yang mungkin saya ketahui, saya memang tidak cerdas dan banyak ilmu namun saya juga berusaha untuk mengikat apa yang saya miliki dalam ilmu pengetahuan untuk dapat dituliskan, agar semua tidak menguap begitu saja dan di telan oleh kecenderungan manusia untuk lupa.

Ilmu pengetahuan adalah kekuasaan dan ilmu pengetahuan adalah jembatan untuk mengalahkan rasa takut. Ilmu pengetahuan adalah kekuasaan, hal ini merupakan bentuk dasar dari kekuatan pengetahuan itu sendiri, seseorang yang mengetahui maka akan melkukan sesuatu berdasarkan pada pengetahuannya, terlepas itu benar atau salah dalam pandangan umum, namun hal tersebut yang telah ia pelajari akan ia lakukan, berdasarkan apa yang telah ia alami dan apa yang ia miliki dalam pengetahuan yang sedang ia hadapi bersamaan dengan kenyataan. Pengetahuan yang kita miliki menjadi dasr akan tindakan kita, menjadi dasar bagaimana kita melihat suatu keadaan, menjadi dasar bagi kita untuk melihat sudut-sudut pada suatu permasalahan.

Dibutuhkan pengetahuan untuk mengembangkan wawasan, agar cara pandang kita dapat melihat suatu bentuk subjek permasalahan secara menyeluruh, secara objektif dan subjektif, menempatkan keduanya pada posisi yang tepat dan menemukan pencerahan dan juga jawaban dari apa yang sedang terjadi. Dengan demikian pengetahuan kita akan menjadi kekuasaan bagi diri kita sendiri terhadap dunia di luar diri kita untuk dapat menyelimutinya tanpa kecuali, mengendalikannya dan memiliki kemampuan untuk menerka serta memprediksi apa yang akan terjadi kemudian, yang dengan demikian kita dapat melakukan sesuatu terlebih dahulu agar segala sesuatunya dapat sesuai dengan kehendak diri kita.

Ilmu pengetahuan sebagai jembatan agar terbebeas dari rasa takut, dalam hal ini ilmu yang kita miliki merupakan cara kita untuk menguasai, rasa takut mundul dikarenakan ketidaktahuan yang kita miliki dalam menghadapi sesuatu, kita tidak tahu sehingga kita berjaga-jaga atas sesuatu yang buruk yang mana bisa saja terjadi. Namun ketika kita mampu menguasai suatu keadaan maka kita tidak perlu lagi untuk merasakan takut itu sendiri, kita sudah mengetahui resiko dan arah yang kita ambil.

Penulis sendiri juga merupakan seseorang yang belum mau untuk berhenti dalam memperoleh pelajaran, penulis selalu berusaha untuk mendapatkan sesuatu yang baru, yaitu sesuatu yang mampu menambah wawasan kita dalam kehiduapan di dunia ini. Kemauan kita untuk terus belajar dapat menjadikan kita sebagai pribadi yang terampil, pribadi yang tidak kalah dalam persaingan bangsa ini dalam globalisasi.

Baca terusannya......

Jumat, 06 Agustus 2010

Social Engineering: Eksploitasi Kelemahan Manusia

Manusia makhluk yang tidak pernah luput dari salah dan dosa, tak ada manusia yang sempurna, kesalahan pasti saja akan terjadi dan hal tersebut diwajarkan. Demikian yang diyakini maka apa yang ada didalam kehidupan manusia adalah dimungkinkan melakukan kesalahan, dari kesalahan tersebut dan ketidak-sempurnaan itu, dimana diyakini maka akan banyak sekali ditemukan kelemahan-kelemahan yang dapat dimanfaatkan.

Sebelum masuk lebih jauh kedalam dunia keamanan komputer dan segala macam jaringan, perlu kita ketahui juga dalam tulisan ini penulis membatasi semua kelemahan manusia dengan hubungannya sebagai pengguna dan pencipta teknologi komputer dan segala macam jejaring yang saling terhubung. Mengenali social engineering berkaitan erat dengan perilaku melanggar dalam dunia keamanan jaringan. dasar pendidikan penulis sendiri memang bukanlah dari fakultas teknologi informatika, jadi diharapkan para pembaca tidak mengharapkan banyak untuk mendapatkan sumber kode-kode mengenai cara untuk meretas.

Hacking atau dalam bahasa Indonesia dikenal dengan meretas merupakan sebuah aksi dalam membobol sebuah suatusistem keamanan komputer entah secara personal yang diserang atau suatu bentuk sistem perusahaan yang rumit beserta segala macam data-data yang sangat penting yang mereka miliki didalamnya. Dari hasil pengamatan oleh penulis sendiri ada berbagai macam motif dari seseorang (atau mungkin kelompok) untuk melakukan sebuah tindakan yang merugikan orang lain, antara lainnya ada berupa keuntungan atau hanya berupa usaha pembuktian diri, serta berbagai macam lainnya.

Seperti yang pada artikel awal, dimana bahwa social engineering memiliki fokus pada manusia dimana manusia dianggap sebagai rantai terlemah dari jaringan komputer. Sedikit contoh apabila Anda menginginkan password dari akun seseorang maka cara termudah adalah dengan menipu orag tersebut agar mau memberikan kata sandi dari akunnya, atau mungkin Anda melakukan tebak-tebakan atas kata sandinya, menggunakan brute force dan juga segala macam program script kiddie yang mampu mengacak sandi, memakan waktu dan memiliki kemungkinan untuk diketahui pihak yang akan dibobol kata sandinya.

Jika Anda seorang admin yang mengurus, katakanlah, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang marketing dan juga penjualan secara online, dimana banyak sekali transaksi yang terjadi setiap hari melalui jaringan yang sekarang sedang Anda urus. Anda menjadi satu-satunya yang memiliki akses kedalam sebuah jaringan yang sangat ketat, tidak memiliki celah dan sangat sulit untuk bisa ditembus dari luar oleh hacker-hacker sekaliber Kevin Mitnick sekalipun, karena sistem yang berada dibawah kendali Anda memiliki suatu mekanisme pertahanan yang diperbaharui pada setiap jamnya, entah dari password dan juga nomor-nomor jaringan. Sedangkan hanya diri Anda sendiri yang memiliki akses kedalam.

Jika ternyata perusahaan Anda memiliki saingan dan sangat membenci perusahaan Anda karena kecurangan yang pernah dilakukan perusahaan Anda sebelumnya. Maka seberapa inginkah perusahaan lawan Anda tersebut untuk mendapatkan beberapa informasi dari Anda? Apalagi jika mereka mengadakan suatu bentuk sayembara yang disebarkan ke dalam komunitas hacker dan mereka semua sekarang berlomba-lomba untuk mendapatkan informasi itu dari Anda karena mereka juga mengetahui betapa penting apa yang ada pada tangan Anda.

Bayangkan kira-kira apa yang akan mereka lakukan terhadap Anda, jangan bayangkan sampai kepada penyanderaan kepada sanak-keluarga Anda, jangan bayangkan pada penodongan dimalam hari yang pada akhirnya mencelakakan para pencari informasi karena harus menjadi buronan polisi, namun bayangkan mereka melakukannya tanpa Anda pernah ketahui, mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan tanpa pernah Anda ketahui kapan dan bagaimana mereka melakukannya. Itulah social engineering, dimana ada sebuah usaha yang bertujuan pada hasil, tidak peduli dengan bagaimana cara yang dilakukan, tidak peduli pada proses, semua pada hasil belaka, entah dengan mengelabui, dengan membohongi, dengan menipu, dengan cara yang senyap dan tidak diketahui. Anda telah dipelajari, dari setiap kebiasaan-kebiasaan Anda sehari-hari, maka terbayangkah apa yang telah mereka lakukan terhadap Anda selama ini?

Sekarang kalau Anda menghadapi seorang maniak maka Anda akan lebih bingung lagi dalam menghadapi mereka karena jelas mereka bertindak atas dasar delusi, bukan keuntungan yang juga mungkin Anda sadari. Betapa menyebalkan apabila apa yang Anda hadapi adalah kegilaan orang lain. Ok, kemampuan ini saya samakan dengan kemampuan manipulasi yang dimiliki oleh seorang psikopat, mungkin jika Anda seorang yang penting karena memiliki sandi perusahaan maka Anda akan menghadapi musuh yang Anda ketahui apa yang mereka inginkan dari diri Anda, sedangkan jika Anda menghadapi orang gila maka Anda tidak akan mengetahui tujuan dari apa yang telah mereka lakukan terhadap Anda.

Kembali fokus kembali kepada keamanan apa yang ada dalam komputer Anda, bukan tentang psikopat yang tersebar diluar sana. Sekarang jika diandaikan bahwa Anda hanyalah seorang pengguna komputer biasa, komputer dalam kehidupan Anda hanya untuk mengetik, bersosial, dan melakukan kegiatan yang menyenangkan lainnya, pokoknya Anda bukanlah seseorang yang hidup dan matinya berada pada komputer, dimana tidak ada data yang Anda anggap begitu penting jika hilang, rusak atau dimiliki oleh orang lain. Anda juga tidak bekerja pada agen rahasia pemerintah, bukan juga pemegang rahasia perusahaan, bukan pula seorang ilmuwan yang memiliki konsep orisinil. Apakah Anda akan kelimpungan dalam menghadapi orang yang akan mencuri akun-akun jejaring sosial Anda? Atau Anda merasa khawatir kalau ada seseorang yang telah menanamkan remote pada komputer Anda? Saya rasa tidak, sebagaimana saya juga tidak takut.

Amarilldo

Baca terusannya......

Jumat, 30 Juli 2010

Social Engineering: Perkenalan

Beberapa kali saat penulis sedang googling menemukan kata “social engineering” tidak tahu apa maknanya, waktu itu penulis temukan dalam beberapa artikel berbahasa asing dan bukan informasi itu yang sebenarnya penulis cari melainkan adalah kecenderungan apa yang melandasi seseorang dalam membuat password atau kata sandi, entah itu password untuk akun jejaring sosial mereka atau segala macam kebutuhan yang memerlukan password.

Dalam search engine penulis memasukkan kata psychology of password namun ternyata masih nihil keberadaannya, dimungkinkan masih sedikit hal yang berhubungan dengan hal tersebut, atau mungkin memang tidak dapat password seseorang diketahui dari perilaku keseharian mereka. Ternyata juga ketika kita memilih password untuk sebuah akun maka penyedia layanan akan menekankan agar kita menggunakan kombinasi huruf dan angka yang rumit, maka dimungkinkan bahwa kata yang kita pilih memiliki kesempatan yang sangat-sangat kecil untuk diketahui oleh orang lain.

Yang harus penulis jelaskan sekarang kepada pembaca adalah bahwa tidak ada maksud sama sekali dari diri penulis dalam mengetahui password akun dari orang lain, hanya saja berhubung password adalah sebuah rahasia, sebuah privasi yang dalam pada diri seseorang, maka sebagai hubungannya dengan ilmu yang penulis pelajari (psikologi) sangatlah berkaitan, dimana keinginan penulis dalam mengetahui tentang yang dijadikan pilihan seseorang dalam memilih kata sandi, apakah ada keseragaman atau tidak? Atau mungkin dapat ditemukan sebuah ciri tertentu dari kepribadian tertentu dalam hal pemilihan kata sandi? Pertanyaan semacam itulah yang menjadi dasar dari pemikiran penulis untuk menuliskan kata psychology of password pada search engine.

Social Engineering berhubungan dengan keamanan komputer, seperti kita ketahui bahwa pada saat ini berbagai macam relung kehidupan manusia telah dikomputerisasi, dimana segala macam rahasia dan juga informasi penting tersimpan dalam data komputer, dimana akses kedalam sebuah jaringan adalah berbahaya bila dimiliki oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, ketika kita hidup ditopang oleh mesin yang cerdas namun tetap dikendalikan oleh manusia. Kata hacking dan juga cracking adalah kata yang melekat pada definisi social engineering yang kali ini penulis maksudkan, namun tidak terhadap sistem dan juga berbagai macam kode-kode melainkan kepada aspek manusia sebagai operator dari berbagai perangkat sistem canggih, seperti yang tertulis dalam Wikipedia Indonesia tentang social engineering : “Social engineering mengkonsentrasikan diri pada rantai terlemah sistem jaringan komputer, yaitu manusia. Seperti kita tahu, tidak ada sistem komputer yang tidak melibatkan interaksi manusia. Dan parahnya lagi, celah keamanan ini bersifat universal, tidak tergantung platform, sistem operasi, protokol, software ataupun hardware”.

Erat kaitan antara social engineering dengan penipuan, manipulasi, akal-akalan, dan berbagai macam sesuatu yang tidak sedap. Manusia jelas dikelabui dan menjadi korban dari para pelaku dengan bentuk memberikan akses atau mungkin juga sebuah informasi. Korban seringkali tidak mengetahui bahwa dirinya telah dimanipulasi oleh pelaku, sehingga tidak menyadari bahwa dirinya telah menjadi korban. Kalau dilihat dari segi korban sepertinya ada kemiripan antara social engineering dengan psikopat, dimana para korban merasa dirinya bukanlah korban sampai kepada titik kerugian tertentu, selain itu dalam hal kemiripannya dengan psikopat adalah kemampuan menjadikan korban melakukan apa yang diinginkan oleh pelaku, tanpa pernah korban berpikir bahwa hal tersebut merupakan sebuah hasil arahan, lebih parahnya adalah korban merasa bahwa apa yang ia lakukan adalah kehendaknya pribadi yang akan menguntungkan diri korban. Kemiripan ini bukanlah sebuah kebetulan namun disebabkan pada kesamaan hal, dimana semua ini menggunakan seni berpikir dan juga kemampuan membaca lawan dan yang terpenting adalah berkaitan dengan tujuan, dimana cara seperti apa saja dapat digunakan, diketahui bahwa cara memanipulasi manusia adalah dengan mengenali karakter dari manusia tersebut.

Kemampuan ini sekarang disebut sebagai seni, kejam memang kalau dilihat dari segi kemanusiaan namun pada kenyataan dari sumber yang penulis peroleh kebanyakan menganggap bahwa manusia adalah bagian dari sistem komputer itu sendiri dan menyebut manusia sebagai HumanOS, atau human operating system yang juga memiliki celah untuk dapat mereka retas seperti sistem komputer.

Apa yang saya tulis sekarang ini bukanlah sebuah ilmu yang mengajarkan orang lain untuk menjadi seorang penipu dan gemar memperalat orang lain melainkan lebih kepada kewaspadaan kita dalam mengarungi dunia yang telah terkomputerisasi seperti sekarang ini. Seperti kita ketahui ada istilah bahwa untuk menangkap pencuri maka kita harus berpikir seperti pencuri tersebut, yaitu dengan melihat kedalam diri kita tentang kemungkinan-kemungkinan adanya kelemahan di dalam pertahanan yang kita miliki.

Berkaitan dengan teknologi manusia dan kejahatan yang mengintai manusia itu sendiri dimana kejahatan itu, secara sengaja atau tidak, berasal dari kemajuan yang telah diciptakan oleh manusia itu sendiri. namun teknologi tercipta untuk menjadikan kehidupan manusia lebih baik dan sejahtera, bukannya untuk mencelakakan atau bahkan mempersulit kehidupan ini, kebijaksanaan manusia yang mengendalikan teknologi tersebut merupakan kunci dari kesejahteraan untuk hidup bersama segala macam teknologi yang berada dalam genggaman manusia pada masa ini.

Dalam tulisan kali ini penulis masih belum akan memberikan banyak keterangan mengenai social engineering, seperti tertulis pada judul, tulisan kali ini hanyalah sebuah perkenalan, semoga ada kesempatan untuk menulis lanjutan dari tulisan ini. Masih banyak sekali yang bisa dibahas dari social engineering seperti metode, cara menangkal, pengenalan gejala. Namun seberapa pentingkah diri Anda? Samapai mungkin Anda menjadi paranoid dalam mempertahankan diri Anda?, penulis hanya bisa tersenyum dalam hal ini, melihat ketakutan manusia berasal dari ketidaktahuan, dan ketika manusia telah mengetahui dan mengerti maka mereka akan tahu tentang apa yang mereka hadapi sehingga hilang ketakutan tak mendasar yang mereka pernah miliki.

Semoga bisa lanjut pada artikel berikutnya wasalam.

Amarilldo


sumber:
http://www.social-engineer.org/
http://id.wikipedia.org/wiki/Social_engineering_%28keamanan%29
http://en.wikipedia.org/wiki/Social_engineering_%28security%29

Baca terusannya......

Sabtu, 08 Mei 2010

Manusia #2

Manis, itu yang akan terasa saat Anda merasakan gula pasir. Salah satu rasa dalam kehidupan, manis, banyak sekali mewakili perasaan-perasaan yang menyenangkan, bahkan sampai wajah sekalipun dapat juga diwakili dengan kata manis itu sendiri. Rasa yang cenderung disukai, rasa yang cenderung untuk dicari, rasa yang juga memungkinkan untuk diperjuangkan dalam usaha untuk memilikinya.

Manusia, hidup, yang mana yang terlebih dahulu mereka kenal, hidup sebagai menusia dan mati sebagai manusia, atau hanya sementara saja menjadi manusia? Beberapa berpendapat kalau menjadi manusia yang sekarang adalah hanya pengalaman dalam menjadi “manusia” yang sesungguhnya.

Penulis telah kembali pada kegemaran awalnya, yaitu bertanya, meragukan dan juga mencari jawaban, rasa lapar akan pengetahuan, rasa penarasan yang menumpuk, keingintahuaan yang semakin memuncak dalam setiap detiknya. Panggilan wajar, panggilan yang sangat penulis syukuri untuk ada dalam diri penulis. Sebuah anugrah bagi diri penulis sendiri dan sebuah kutukan bagi diri penulis jika dari sisi yang lain.

Kembali dalam mendalami apa yang ada dalam kehidupan ini, apa yang ada dalam pemikiran manusia, rasa tidak puas, ya, rasa tidak puas, itu yang akan menjadi topik utama dalam seri tulisan Manusia kali ini. Manusia tidak memiliki rasa akan puas, mereka terus saja mencari, mendapatkan, memiliki, walau itu sudah lebih dari apa yang sebenarnya mereka butuhkan.

Manusia makhluk yang serakah, memakan apa saja, bahkan sesamanya, sehingga ada istilah homo homini lupus sebuah istilah kuno yang berarti manusia merupakan serigala bagi manusia lainnya. Manusia bertahan hidup, mempertahankan kedudukan dan dengan ketidak-puasan yang ada dalam dirinya mereka ingin menjadi lebih dari yang sekarang, walau ada batasan dalam apa yang mereka cari, batasan dalam cara memperoleh apa yang mereka inginkan dan juga penjaga batas dalam apa yang mereka idam-idamkan. Namun adakala manusia itu terbutakan, terasionalisasi oleh nafsu mereka sendiri, bukan untuk mendapatkan kebaikan bagi orang lain namun dalam mendapat kebaikan yang membalut keserakahan bagi diri sendiri, terbalut dan tersamar bahkan bagi diri sendiri.

Manusia makhluk yang serakah, tidak cukup alam ini memberikan kehidupan bagi mereka, dalam jaman industri seperti sekarang ini, dimana kapitalisme merajalela, dimana keuntungan menjadi tujuan utama, maka manusia melakukan apa saja untuk mendapatkan keuntungan tersebut, mereka dan keserakahan mereka telah dibalut dengan berbagai macam pembenaran yang berfungsi sebagai landasan pemikiran dalam pelaksanaannya, manusia walau mereka berperilaku parasit dan merugikan pihak lain, tetap saja mereka memiliki pembenaran dari apa yang mereka lakukan sebagai sebuah jalan menuju arah yang lebih baik.

Manusia sudah kehilangan akal sehatnya, manusia telah kehilangan jati dirinya manusia sudah bukan manusia dalam satu sisi dan “itulah manusia” pada sisi yang lain. pada sisi yang lain, manusia pada sisi yang lain itulah cara pandang, kebebasan manusia dalam kebenaran (pembenaran) kehidupannya sendiri, manusia yang bebas adalah manusia yang telah mampu memilih apa yang akan dilakukannya, terlepas dari pandangan orang lain dan juga belenggu norma yang mengikat dirinya di kesehariannya. Manusia yang mampu mendirikan dirinya sendiri, manusia yang mampu bertahan dengan keyakinannya sendiri, manusia yang mampu hidup bersama dengan manusia lain setelah ia melakukan pemikiran dan juga penyaringan terhadap sikap-sikapnya.

Tidak mudah menjadi manusia, manusia adalah makhluk yang serba salah, manusia adalah makhluk yang cepat berubah, dalam hitungan detik sekalipun, untungnya adalah semua ini tidak untuk selamanya.

Mengenai tulisan kali ini, tidak ada maksud untuk membingungkan para pembaca, tak ada maksud juga untuk membiaskan pemikiran, namun ini semua hanyalah sebuah bentuk pemikiran mentah yang diharapkan pada suatu saat akan berguna bagi penulis sendiri, sebuah catatan dari upaya pembentukan konsep, sebuah usaha dalam membangun sebuah blue-print, konsep apa? Dan blue-print akan apa? Semua juga masih belum terjawab. Bukan juga tanpa tujuan, semua adalah proses dan pembelajaran. Manusia belajar dan setelah itu manusia mengerti. bla...bla...bla... :)

Baca terusannya......

Selasa, 02 Maret 2010

Dibutakan

Ketika manusia dibutakan, keadaan ketika kita tidak mampu melihat apa yang sebenarnya jelas, apa yang sebenarnya benar, apa yang sebenarnya baik, ketika diri menjauhi kebenaran itu sendiri, mendekati mimpi busuk, khayalan dan juga delusi. Ketika manusia menjauhi apa yang menjadi kebenaran sejati dalam kehidupannya, ketika kita melihat sesuatu yang palsu bersinar, ketika kita terpanggil secara perasaan yang telah tertipu, ketika kita terbutakan, memandang baik perbuatan yang salah.

Manusia adalah makhluk yang tidak akan pernah luput dari salah dan juga dosa, manusia adalah makhluk yang tidak sepenuhnya salah dan juga tidak sepenuhnya baik, manusia adalah manusia, dimana kesalahan adalah jalan menuju kebaikan itu sendiri, dan kebaikan adalah dapat menjadi jalan menuju mudarat itu sendiri, dengan salah dan menyesal manusia menjadi tahu akan apa yang telah terjadi, mempelajari apa yang seharusnya baik dan apa yang seharusnya buruk, bukan dalam keadaan hitam dan putih, melainkan dalam keadaan abu-abu dimana semua bersatu padu, menjadikan keduanya sangat sulit untuk dipisahkan.

Kebenaran bukanlah milik manusia, hanya perjuangan akan pembenaran yang ada, kebenaran yang disepakati bersama, bukan kebenaran yang hak, namun pembenaran. Dibutakan adalah fenomena tersendiri dalam diri manusia, sejak lama manusia selalu saja tergoda, melakukan kesalahan, yang berakibat merugikan, baik itu untuk dirinya sendiri atau bahkan bagi orang lain yang ada disekitarnya. Manusia makhluk paling sempurna dengan ketidak sempurnaan itu sendiri.

Banyak hal yang dapat menyebabkan manusia dibutakan, namun secara keseluruhan proses pembutaan itu sendiri berasal dari ketidak-sadaran diri akan apa yang ada dalam diri manusia tersebut, ketika manusia memandang baik apa yang sebenarnya buruk bahkan dalam pengartian dirinya sendiri, ketika manusia tidak menjadi diri idealnya, ketika manusia menjauhi keadaan diri terbaiknya yang pernah ada. fluktuatif, itulah hidup manusia, berjalan tanpa beban, berjalan tanpa kepastian, hanya saja satu yang pasti yaitu berakhir, tidak akan suatu jiwa menjadi manusia untuk selamanya, tidak ada manusia yang abadi.

Jika terbutakan adalah jalan menuju sempurna bagi manusia maka biarlah saat ini diri dan mata bahkan hati menjadi buta, biarkan mereka berjalan tanpa arah dan tersesat, dalam kebutaan itu sendiri hanya satu yang diyakini karena pengelihatan itu sendiri juga bukanlah milik manusia, dibebaskan kepada sang pemilik manusia itu sendiri untuk membutakan hambanya, atau membiarkan hambanya melihat dengan jelas, sesat lurus atau apapun bukanlah milik manusia. Namun berusaha adalah kewajiban, menjauhkan sebisa mungkin akan diri ini dari segala macam kebutaan, mengalihkan perhatian dan juga memantapkan pegangan serta tujuan.

Diterserahkan bagi Anda tentang apa yang akan terjadi setelah apa yang telah Anda alami dengan segala keterbutaan Anda sendiri. dengan keterbutaan yang selama ini terjadi dalam diri Anda, maka Anda akan menjadikan dunia Anda semakin penuh dengan warna, belajar dari kesalahan dan juga mendapatkan pembelajaran dari keadaan yang disebabkan oleh perilaku diri sendiri, semoga apa yang kita rasakan dalam kehidupan ini hanya akan membawa kita pada keadaan yang semakin lebih baik dari waktu-ke-waktu. Satu ha yang harusnya diingat adalah seseorang yang selamat dalam kehidupan ini adalah mereka yang memiliki perilaku yang sesuai dengan apa yang diinginkan alam kepada manusia.

Baca terusannya......

Sabtu, 23 Januari 2010

Telaah Sosio-Kultural Lagu The Brews Dari NOFX

Kali ini penulis sedang menyempatkan diri untuk menelaah salah satu lagu favorit penulis, judulnya The Brews dari NOFX, lagu ini sering sekali saya dendangkan dalam segala macam keadaan, pertama sih karena unsur kata Oi! yang sering sekali diucapkan didalamnya, salam ala punk yang disosialisasikan oleh para buruh Inggris sekitar tahun 1970an, suatu bentuk budaya perlawanan dan juga sub-culture. Sejak dulu memang lagu ini memberi pengartian yang lain, tapi entah apakah para pembaca mengetahuinya, disini yang dipakai adalah budaya punk dalam masyarakat Yahudi, walau hanya secara imajinasi saja, dan secara apik dilantunkan oleh NOFX.

Entah apa tujuannya, apakah menghina atau mungkin hanya untuk lucu-lucuan saja namun memang lucu sih, masalahnya semua menceritakan tentang terjadi persilangan budaya antara skinhead, punk dan budaya minoritas kaum Yahudi itu sendiri. Budaya Yahudi termasuk salah satu budaya tua di dunia, dipertahankan dari generasi ke generasi, kelebihan mereka adalah mereka menganggap diri mereka sebagai masyarakat pilihan Tuhan, sebagaimana diterangkan oleh kitab-kitab suci yang ada sekarang. NOFX sendiri memiliki dua personil Yahudi pada saat lagu ini ditulis, jadi kemungkinan mereka tidak bertujuan menghina, namun mereka lebih menunjukkan kepada pemberontakan anak muda dengan gaya punk dan skinhead pada salah satu budaya saja.



Lirik The Brews adalah sebagai berikut:

Friday night we'll be drinking Manishevitz
Going out to terrorize Goyem
Stomping shagitz, screwing shicksas
As long as we're home by Saturday morning

Cause hey, we're the Brews
Sporting anti-swastika tattoos
Oi Oi we're the boys
Orthodox, hesidic, O.G. Ois

Orthopedic, Dr. Martins good for
Waffle making, kicking through the shin
Reputation, gained through intimidation
Pacifism no longer tradition

Cause hey we're the Brews
Sporting anti-swastika tattoos
Oi Oi we're the Brews
The fairfax ghetto boys skinhead Hebrews

We got the might, psycho mashuganas
We can't lose a fight, as we are the chosen ones
Chutspah driven, we battle then we feast
We celebrate, we'll separate our milkplates from our meat

We're the Brews
Sporting anti-swastika tattoos
Oi Oi we're the boys
Orthodox, hesidic, O.G. Ois

Yeah! Lihat kata-katanya, banyak yang bukan bahasa Inggris tapi bahasa keseharian masyrakat Hebrews. Ok, mari kita bahas perbait saja biar makin seru, bait pertama Friday night we'll be drinking Manishevitz, Manishevitz adalah sebutan minuman keras murah yang biasa diminum oleh masyarakat Yahudi yang gemar mabuk, walau ajaran asli mereka sendiri melarang untuk meminum alkohol. Mengapa Jum’at malam adalah karena hari suci mereka adalah hari Sabtu, dan pada malam itu seperti “malam minggu”. Going out to terrorize Goyem, pada bagian ini memang terasa lucu sekali, jadi mereka mabuk dan keluar untuk melakukan terror kepada Goim, Goim sendiri adalah sebutan orang Yahudi kepada Non-Yahudi, dimana ketika ditelaah secara harfiah maka Goim sendiri dapat diartikan sebagai sesuatu yang bukan manusia, ya, memang sudah terkenal kalau bangsa Yahudi itu sendiri memandang rendah semua orang yang bukan bangsanya. Stomping shagitz, screwing shicksas, ditekankan kembali pada bagian ini, mereka keluar memukuli orang laki-laki non-Yahudi (shagitz) dan mengganggu perempuan non-Yahudi (shicksas). As long as we're home by Saturday morning, walau mereka Punk dan Skinhead tapi mereka tetap taat pada peraturan kepercayaan mereka, mereka akan tetap pulang pada Sabtu pagi dan pergi ke Sinagog (rumah ibadah Yahudi) kemudian.

Cause hey, we're the Brews Sporting anti-swastika tattoos, budaya Yahudi mengharamkan tatto, mereka dalam lagu ini sebagai kaum Punk pemberontak dan juga Skinhead yang brutal mendukung adanya tatto lambang anti-swastika, sebagaimana swastika adalah lambang dari gerakan Nazi Jerman, dimana pada saat itu dilaporkan bahwa terdapat jutaan orang Yahudi yang di bantai dalam peristiwa Hollocaust, dan menjadikan Hitler sebagai salah satu penjahat kemanusiaan terbesar. Oi Oi we're the Brews The fairfax ghetto boys skinhead Hebrews, Oi! Selain dikenal sebagai seruan kaum buruh di Inggris pada era 1970-an juga dikenal dalam masyarakat Yahudi sebagai seruan seperti “Ouch!” dalam bahasa Inggris atau “Aw!” dalam bahasa Indonesia. The Brews dalam lagu ini mengartikan Hebrew, atau masyarakat Yahudi. Fairfax sendiri adalah daerah yang di kenal di Los Angles sebagai pemukiman kaum Yahudi Ortodoks, Ghetto adalah pemukiman kaum minoritas, namun lebih kepada kaum Yahudi dimana saja. Oi Oi we're the boys Orthodox, hesidic, O.G. Ois, disini dimantapkan bahwa mereka adalah masih menganut kepercayaan dan budaya mereka dengan sangat baik.

Dr.Martin sebagai merk sepatu boot yang biasa dipakai oleh penganut Punk, Yup, tergantung bagaimana melihatnya antara Punk secara politik, gaya hidup atau suatu jalan hidup, atau hanya fashion sesaat saja di antara anak-anak muda. Sepatu Dr.Martin memiliki permukaan bawah yang mirip untuk mencetak waffle, jadi dikatakan demikian dalam lirik tersebut. Kemudian dilanjutkan, Reputasi mereka adalah mendapat keuntungan dari intimidasi, sebagaimana biasa terjadi pada masyarakat minoritas, namun pada kaum Yahudi intimidasi yang mereka terima sangat berbeda, karena mereka dianggap racun tersendiri bagi masyarakat, sebagai contoh adalah tindakan Nazi Jerman yang membantai habis mereka. Mereka juga terkenal bukan masyarakat yang mencintai damai, hal ini terjadi karena mereka adalah para pejuang yang mencari tanahnya sendiri, mereka mau berdamai jika hal itu memberikan keuntungan bagi pihak mereka.

We got the might, psycho mashuganas We can't lose a fight, as we are the chosen ones, mashuganas adalah bentuk dari ungkapan Yahudi kepada seseorang yang gila dan aneh, namun menjurus pada sesuatu yang tidak baik, dalam budaya Punk menjadi gila dan kejam rasanya adalah suatu pujian dan juga sanjungan. Mereka mengatakan kalau mereka tidak mungkin kalah dalam pertarungan kerena mereka yakin bahwa mereka adalah umat pilihan Tuhan, seperti tertulis dalam kitab-kitab suci yang ada sekarang, walau beberapa umat menyangkal, namun mereka mengakui hal tersebut secara benar, karena mereka yakin bahwa hanya leluhur mereka yang telah diambil sumpah oleh tuhan dibawah gunung Sinai pada jaman nabi Musa. Chutspah driven, we battle then we feast We celebrate, we'll separate our milkplates from our meat, pada bagian ini terdapat pemisahan antara daging dan susu, dalam budaya makan Yahudi diharamkan untuk mencampur antara daging dengan susu, bahkan sampai kepada penggunaan piring dan gelas mereka akan dipisahkan mana untuk yang susu dan mana untuk yang daging dan makanan dari bahan yang lain, ajaran ini biasa dikenal dengan Kosher.

Dari keseluruhan lagu ini sebenarnya ditujukan untuk menghina para Nazi Punk yang pernah berkeliaran dan melakukan tindakan rasisme terhadap sesama Punk dan Skinhead. Mereka menyerukan rasisme, dan kebencian terhadap kaum minoritas, seperti Negro, Yahudi dan lainnya, bahkan kepada para anti-rasis yang jelas sebagai lawan filosofi mereka, sebagai mana Nazi Jerman, mereka selalu meninggikan ras arya, kaum kulit putih eropa. Tindakan rasis mereka sangat mengotori budaya punk yang ada pada masa itu. Namun dari hasil penelusuran gerakan-gerakan neo-Nazi masih saja banyak tersebar. Itulah fokus utama dalam lagu ini, yaitu tentang masuknya Punk kedalam segala jenis kebudayaan.

Penulis sendiri bukanlah seorang penganut Punk, atau setidaknya bukan Punk yang menjadi gaya hidup kaum urban, namun lebih kepada filosofi kebebasannya, bukan kepada kebebasan dalam bertindak melainkan kebebasan dalam berkarya. Bagi penulis Punk adalah paham kebebasan yang dimana seseorang sudah dapat membebaskan dirinya sendiri dari bertindak salah, atau sudah mampu memilih kesalahan apa yang akan ia lakukan, bukan kebebasan yang tanpa pembatasan dan tanggung jawab, namun punk sebagai kebebasan manusia dari peraturan luar dirinya karena ia sudah memiliki kemampuan mengendalikan diri yang tinggi dari dalam dirinya sendiri. Namun sekali lagi ini Punk, maka cari saja pengartiannya menurut hati nurani kalian sendiri.

*tulisan ini tertulis sambil mengingat-ingat konser NOFX di Jakarta beberapa tahun lalu*

Baca terusannya......

share

hidup itu adalah suatu kesementaraan dimana kita yang berada didalamnya hanya bisa merasa takjub tanpa henti merasakan keajaiban dari hidup itu sendiri, namun terkadang sesuatu yang terjadi dengan baik tidak terlihat seperti apa yang istimewa, dengan apa yang kita miliki dan kita rasakan maka cobalah untuk memikirkan mengapa semua ini terjadi dan menjadi seperti ini.